Laman

PENGURUS INTI PDB BALI 2012










Semangat Buat Crew PDB Bali 2012 - 2013




TV Online

Senin, 04 Juli 2011

Makna Hari Raya Galungan di Bali


Hari raya Galungan yang merupakan hari raya besar bagi Umat Hindu diperingati setlap 210 hari berdasarkan perhitungan pawukon yakni jatuh pada hari Rabu pancawara Kliwon, wuku Dungulan. Peringatan hari raya dalam agama Hindu menggunakan perhitungan sebagai berikut : 1. Berdasar sasih, melihat peredaran bulan di langit jatuh setiap tahun seperti hari-hari raya Nyepi, Siwalatri bila dihitung kurang lebih setiap 365 hari. 2. Berdasarkan pawukon, yang diperingati setiap 210 hari seperti hari raya Galungan, Kuningan, Pagerwesi dan Saraswati. Hari Raya Galungan mempunyai makna memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma, secara rohani manusia mengendalikan hawa nafsu yang sifatnya mengganggu ketentraman batin yang nantinya berekspresi dalam kegiatan sehari-hari baik secara individu maupun kelompok. Hawa nafsu dalam diri kita dikenal dengan nama Kalatiga yakni tiga macam kala secara hersama-sama dimulai sejak hari Minggu sehari sebelum penyajaan, hari Senin dan berakhir hari Selasa (Penampahan Galungan). Yang dimaksud tiga kala yakni: 1. Kala Amangkurat yakni nafsu yang selalu ingfn berkuasa, ingin menguasai segala keinginan secara batiniah dan nafsu ingin memerintah bila tidak terkendali tumbuh menjadi nafsu serakah untuk mempertahankan kekuasaan sekalipun menyimpang dati kebenaran. 2. Kala Dungulan yang berarti segala nafsu untuk mengalahkan semua yang dikuasai oleh ternan kita atau orang lain; 3. Kala Galungan yakni nafsu untuk menang dengan berbagai dalih dan cara yang tidak sesuai dengan norma maupun etika agama. Hari raya Galungan memang dirayakan sebagai hari raya kemenangan Dharma melawan Adharma, kalahnya keangkaramurkaan yang oleh Mpu Sedah disebut sebagai "Kadung gulaning parangmuka" lebih jauh dijelaskan musuh yang dimaksud adalah musuh-musuh yang ada pada diri manusia yang terlebih dahulu harus dikalahkan. Musuh dimaksud adalah : kenafsuan (kama), kemarahan (kroda), keserakahan (mada), irihati (irsya) atau semua tergolong dalam Sadripu maupun Satpa Timira Sebagaimana kita ketahui kisah tersebut telah tertliang dal,am kitab mahabharata yang termasuk ltihasa sangat utama dalam sastra Hindu. Dalam kitab tersebut tertulis beiapa perjuangan Pandawa dalam memerangi Adharma untuk menegakkan Dharma. Sang Darma Wangsa adalah keluarga yang selalu menegakkan dharma beliau bekerja, berjuang dan berkeyakinan bahwa kebenaran akan selalu menang (Satyam eva Jayate). Lain halnya dengan maha kawi Danghyang Nirartha, beliau melahirkan sebuah karya kekawin Maya Danawantaka, Dalam ceritanya dikisahkan seorang pertapa yang teguh melaksanakan tapa di punggung gunung Ksitipogra dan pusat pemerintahannya diseputaran danau Batur daerah Kintamani, Bangli di Bali. Setelah dia mendapat anugrah dalam pertapaannya ternyata kelobaannya menjadi-jadi, sehingga rakyatnya di wilayah pemerintahannya menjadi ketakutan, Si Mayadanawa tidak hanya mengumpulkan emas, kekayaan, dia melarang melakukan yadnya, bersama tentaranya merusak, mengacau, menyakiti, menghina sastra dan ajaran agama. Oleh karena kejahatannya, diutuslah Dewa Siwa untuk memeranginya. Maka terjadilah pertempuran yang sangat hebat antara pasukan Dewa Siwa dengan Mayadenawa. Karena kesaktiannya Mayadanawa menciptakan tirta cetik, sehingga pasukan Desa Siwa yang sedang kehausan meminumnya, semua pasukan Dewa Siwa Mati. Singkat cerita Dewa Siwa mengetahui kejadian tersebut sehingga Dewa Siwa menciptakan tirta empul (pengurip) yang sekarang disebut tirta empul, diperciki pasukan yang mati hidup kembali. Peperangan harus berlanjut sehingga Mayadanawa terkepung tentaranya mati, dia lari tunggang langgang segala macam taktik tipu muslihat dipergunakan. Mayadanawa lari agar tapak kakinya tidak dilihat, dia lan dengan tungkai yang miring namun tetap diketahui oleh Pasukan Dewa Siwa sehingga sebagai bukti tempat itu sampai sekarang disebut desa Tapak Siring (Tampak Siring) asal kata dan telapak kaki miring. Kemudian Maya Danawa lari bersembunyi di pohon kelapa pada pucuk kuncup/pada busung kelapa tetap dapat dilacak oleh pasukan Dewa Siwa sampai sekarang tempat itu dinamakan desa Blusung. Akhir cerita karena Mayadenawa dipihak yang salah peperangan dimenangkan oleh Pasukan Dewa Siwa dan Mayadenawa mati. Demikian sejarah hari Galungan. Menyambut han Raya Galungan umat Hindu hendaknya benar-benar dapat mengendalikan tiga nafsu ingin berkuasa, ingin mengalahkan, ingin menang sehingga di hari Rabu/di hari Galungan dapat menegakkan dan mengibarkan panji-panji kemenangan dan kemerdekaan spiritual. Kita dapat melepaskan pikiran kita dari kesusahan, sehingga merasa tenang, tenteram gembira baik secara individu, keluarga, serta seluruh umat agar dapat menatap, merencanakan hari depan semakin cerah. Sebagai simbul kemenangan, kegembiraan, rasa syukur sehari sebelum Galungan umat Hindu menancapkan Penjor-penjor di pintu gerbang/jalan masuk halaman rumah yang mempunyai makna segala sumber kehidupan disediakan di bumi, penjor sebagai lambang gunung yang merupakan segala sumber kemakmuran yang diperlukan oleh seluruh mahluk. Gunung sebagai sumber sandang, pangan dan papan, penghasil udara dan air oleh karena itu disimbulkan dengan penjor dengan segala hiasan sesuai seni dan budaya umat Hindu masing-masing, dilengkapi dengan hasil bumi pala bungkah (umbi-umbian) dan pala gantung (buah-buahan) dan juga dilengkapi dengan kain putih kuning yang melambangkan panji-panji keheningan ketulus-ikhlasan dan kesucian rohani. Hari Galungan juga merupakan hari Pewedalan Jagat/hari ulang tahunnya Jagat raya. Oleh karena itu umat Hindu dihari Galungan melaksanakan upacara, menghaturkan sesajen sesuai peruntukannya yang ditujukan sebagai ungkapan perasaan bakti, sujud, kagum dan bersyukur terhadap Jagatraya yang diciptakan oleh Tuhan, Kita pahami Jagatraya sebagai tempat untuk hidup, memberikan segala sumber penghidupan untuk itu dihari Galungan sangat baik melakukan dana punia baik berbentuk materiil, maupun berupa pengabdian/jasa. Karena dalam bentuk apapun dana punia itu diberikan yang tujuannya untuk kesejahteraan umat, ketenangan nilainya sangat tinggi bila diberikan secara tulus ikhlas. Seperti dikatakan dalam Slokantara sloka ke 33" yaitu : "Jika diwaktu bulan purnama dan bulan mati (tilem) para dermawan memberikan dana punia akan diterima kembali balasannya satu lawan sepuluh oleh Hyang Widhi. Kalau waktu gerhana bulan dan gerhana matahari akan dikembalikan seratus kali, jika pengorbanan dilakukan pada hari-hari pemujaan arwah leluhur balasannya seribu kali, kalau dilakukan pada akhir zaman Kaliyuga akan dikembalikan dalam jumlah yang tidak terhingga". Yadnya dan dana mempunyai makna hampir sama yadnya lebih condong pada upacara sedangkan dana pemberian berupa materi. Bila kita berdana untuk pemeliharaan atau perkembangan Pura berarti kita sudah bakti kepada Tuhan, karena pura merupakan tempat pemujaan maha Pencipta. Pemberian dana yang ditujukan kepada kegiatan sosial seperti membantu orang miskin, memberi pertolongan kepada orang yang sedang dilanda kesusahan merupakan bentuk Dana yang sangat tinggi nilainya. Dana yang diberikan dalam bentuk ilmu pengetahuan sehingga orang menjadi pintar, trampil sehingga bisa hidup sendiri nilainya lebih tinggi pula. Karena itu umat Hindu dimana saja berada kita hendaknya dapat berperan dan mengambil bidang masing-masing untuk beryadnya, berdana punia sesuai kemampuan dan kapasitas kita, diberikan kepada siapa saja yang memerlukan yang dilandasi dengan ketulus-ikhlasan. Jangan beryadnya menyusahkan diri sendiri atau memaksakan diri, karena dana yang demikian tidak bermanfaat. Kita sadari tujuan hidup Umat Hindu adalah untuk mencapai kesejahteraan rahani dan jasmani, kesejahteraan di dunia dan akhirat. [Oleh : I D.K. Budirata, Sulawesi Utara] Copy from : http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=371&Itemid=26
»»  READMORE...

Jumat, 17 Desember 2010

Tahun 2010 Tanah Lot dikunjungi 2 juta wisatawan

Tanah Lot merupakan salah satu daya tarik yang ada di Pulau Bali. Tanah Lot berlokasi di Kabupaten Tabanan dan merupakan pura yang berada di tengah laut. Hampir tiap saat ada saja wisatawan yang mengunjungi Tanah Lot. Tanah Lot mempunyai daya tarik yang membuat orang rindu untuk berkunjung kembali. Pemandangan pantai dengan matahari terbenamnya membuat Tanah Lot semakin lengkap. Selain itu ada daya tarik ular ajaib yang selalu rame dengan pengunjung. Rata-rata Tanah lot merupakan tempat wisata yang menjadi primadona bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Pada Tahun 2010 ini, Tanah Lot menciptakn rekor yang Spektaluler yaitu dikunjungi wisatawan hampir 2 juta orang. Hal ini menunjukkan bagaimana minat wisatawan yang begitu besar terhadap Tanah Lot. Ini juga melengkapi beberapa prestasi yang diraih oleh kawasan pura Tanah lot diantaranya Emerald Supplementary dari THK Tourism Award 2010, Cipta Award 2010 dari Menbudpar, dan Indonesia Tourism Award sebagai daerah tujuan wisata terfavorit 2010. Sungguh mahakarya Tuhan yang begitu menakjubkan. Semoga Pura Tanah Lot selalu ajeg, dan selalu menjadi primadona bagi semua orang.(adm)
»»  READMORE...

Minggu, 28 November 2010

Kerajaan Bedahulu

Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu) menentang ekspansi kerajaan Majapahit pada tahun 1343, yang dipimpin oleh Gajah Mada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar-benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasil dikalahkan tahun 1347. Setelah itu Gajah Mada menempatkan seorang keturunan brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja (Dalem) di pulau Bali. Keturunan dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali. Adapun Raja-Raja yang pernah memerintah Bedulu adalah : 1. Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa - (882-913) 2. Sri Ugrasena - (915-939) 3. Agni 4. Tabanendra Warmadewa 5. Candrabhaya Singa Warmadewa - (960-975) 6. Janasadhu Warmadewa 7. Sri Wijayamahadewi 8. Dharmodayana Warmadewa (Udayana) - (988-1011) 9. Gunapriya Dharmapatni (bersama Udayana) - (989-1001) 10. Sri Ajnadewi 11. Sri Marakata - (1022-1025) 12. Anak Wungsu - (1049-1077) 13. Sri Maharaja Sri Walaprabu - (1079-1088) 14. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana - (1088-1098) 15. Sri Suradhipa - (1115-1119) 16. Sri Jayasakti - (1133-1150) 17. Ragajaya 18. Sri Maharaja Aji Jayapangus - (1178-1181) 19. Arjayadengjayaketana 20. Aji Ekajayalancana 21. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana 22. Parameswara 23. Adidewalancana 24. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa 25. Walajayakertaningrat (Sri Masula Masuli atau Dalem Buncing?) 26. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Bedahulu) - (1332-1343) 27. Dalem Tokawa (1343-1345) 28. Dalem Makambika (1345-1347) 29. Dalem Madura Sumber berita --->>> http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Bedahulu
»»  READMORE...

Jumat, 26 November 2010

Okokan Buka Parade Budaya Tabanan

(Sumber : Bali Post) Ratusan seniman asal Tabanan ikut memeriahkan HUT Tabanan ke-517 dalam acara parade budaya, Kamis (25/11) kemarin, di Taman Kota Tabanan. Parade ini selain bertujuan untuk memeriahkan HUT Tabanan, juga diharapkan mampu membangkitkan semangat para seniman yang ada di Tabanan. Selain itu, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pembukaan Pekan Olah Raga Kabupaten (Porkab) Tabanan tahun 2010. Menurut Ketua Panitia HUT ke-517 Tabanan, Ketut Nuryasa, melalui hari jadinya Tabanan ke-517, diharapkan mampu menjadi pembelajaran dan evaluasi di tahun mendatang untuk menjadi lebih baik. Pihaknya juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menyukseskan HUT Kota Tabanan, baik spirit moral maupun material. Selain parade budaya, berbagai kegiatan juga telah dilaksanakan untuk memeriahkan HUT Tabanan, di antaranya uji emisi gas, lomba puisi, bursa pasar murah, bedah rumah, hingga pengobatan gratis kepada masyarakat. Dalam sambutannya Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, menyatakan ada tiga dasar pemikiran dalam melaksanakan HUT Tabanan, yakni tidak hanya sekadar seremonial, namun bagaimana dapat mengangkat potensi alam, budaya dan manusianya, sehingga merasa bangga lahir sebagai rakyat Tabanan. Selain itu, pemerintah juga ingin memberikan pelayanan lebih kepada masyarakat Tabanan dengan kegiatan-kegiatan sosial, serta ingin mengangkat rasa persatuan dan solidaritas kita sebagai rakyat Tabanan. ''Tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mau bersatu dan berusaha, maka keberhasilan akan kita rasakan bersama. Seperti visi kami Serasi, yaitu keserasian dan keharmonisan menuju Tabanan yang sejahtera, aman dan berprestasi,'' ungkap Bupati Eka Wiryastuti. Bupati menambahkan, dalam HUT Tabanan kali ini, pemerintah dan masyarakat Tabanan telah memperoleh kado yang sangat istimewa, karena telah dirampungkannya peraturan daerah tentang HUT Tabanan, yang merupakan bukti tonggak sejarah atas lahirnya Kota Tabanan. Parade budaya Tabanan diikuti seniman dari 10 kecamatan se-Kabupaten Tabanan, dan juga dihadiri istri Menteri Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Ibu Ina Suharso Monoarfa. Ribuan masyarakat Tabanan pun tumpah ruah turun ke jalan untuk menyaksikan kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Tabanan. Acara yang dimulai pukul 15.00, diawali penampilan panji-panji kebesaran Tabanan yakni ''Pusaka Tulup Empet'' yang merupakan pusaka dari Kerajaan Tabanan. Pada kesempatan tersebut ''Pusaka Tulup Empet'' tersebut mendapatkan penghormatan dari seluruh hadirin yang digenggam Raja Tabanan Ida Cokorda Anglurah Tabanan. Selanjutnya, berbagai kesenian ditampilkan masing-masing kecamatan, mulai dari okokan, gamelan jenggong, sekaa arja, selonding, tarian leko hingga kirab pusaka dari Puri Tabanan berpa keris dan tombak serta akulturasi budaya berupa kesenian rodhat dari budaya muslim, Candi Kuning. Namun, yang menarik dari semua kesenian yang ada, masing-masing duta menampilkan kebolehan sekaa gong kebyar wanitanya. Ini membuktikan bahwa dalam HUT Tabanan ini tidak ada perbedaan gender antara wanita dengan pria. Dalam kesempatan yang sama, Wabup Tabanan yang juga Ketua KONI Tabanan membuka secara resmi Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Tabanan 2010. Porkab Tabanan akan berlangsung dari 28 November hingga 4 Desember 2010, yang diikuti 782 Atlet serta 210 offisial dengan mempertandingan 14 cabang olahraga. (kmb)
»»  READMORE...

Kamis, 25 November 2010

Sejarah Pulau Bali

Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM. Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali. Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah. Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang. Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir. Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia. Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[5] Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini. Copy from : id.wikipedia.org/wiki/Bali
»»  READMORE...